Diklat Lanjutan Susur Gua 2014 Wanala Universitas Airlangga

Hai wasap yo? Mau berbagi cerita tentang pengalaman Dikjut(Diklat Lanjutan) Wanala Universitas Airlangga 2014. Berawal dari proses seleksi alam, yap ternyata saya di beri kesempatan untuk bergabung dan mengembangkan potensi di wanala.

Entah kenapa waktu itu memilih dikjut ini, iya dikjut caving iya dikjut susur gua iya dikjut yang masuk lorong-lorong sempit itu, iya gua yang gelap, iya berlumpur, apalagi? Googling aja karakteristik gua-gua di Indonesia.

Semenjak ikut dikjut ini saya berubah menjadi gadis dengan sosok lain, yap gadis lowo. Gadis yang melek waktu malam hari dan tidur waktu kuliah di pagi hari haha yap itu adalah tantanganya. Berawal dari latihan setiap malam, tes tes dan presentasi keberangkatan membuat saya selalu memiliki pengalaman-pengalaman baru yang tidak saya dapatkan saat kuliah di kelas. Gambar 1.1 LatihanGambar

For the first time, Gua User 1 dan User 2 di Tuban jadi saksi bisu. Sebelum operasional, kita para atlet dikjut caving yang (awalnya) terdiri dari 5 cewek dan 1 cowok melakukan kegiatan Try Out. Mendekati operasional ketika presentasi keberangkatan formasi berubah menjadi 4 cewek dan 1 cowok, betapa tak mudah. 

Dengan kesulitan dan manfaat yang kita dapat saat melalui proses dikjut ini, kami optimis dapat menyelesaikannya hingga operasional selesai. Yeah presentasi di terima, fix tgl 16-21 mei 2014 kami para tim atlet dan tim pendukung berangkat dengan menggunakan kereta api.

Operasional diadakan di Trenggalek yaitu di Gua Luwung Karak dan Gua Sarung. Mungkin banyak yang tidak tau Gua ini, bahkan warga trenggalek sekalipun. Karena yang terkenal di Trenggalek hanya Gua Lowo, gua yang sudah menjadi gua wisata.

Gimana sih karakteristik Gua Luwung Karak dan Gua Sarung? Googling dong! Eh pasti nggak ada ya hehehe kan gua nya belum begitu terekspos. Sedikit bocoran ya, Gua Luweng Karak memiliki kedalaman hampir 100 Meter, jaraknya sekitar 32 Km dari kota, gua ini memiliki karakteristik multipitch, pitch I 50 meter, pitch II 20 meter, dan pitch III 15 meter. Sedangkan Gua Sarung memiliki kedalaman 8 m. Mulut gua ini berbentuk setengah lingkaran dengan lebar 4 m dan tinggi sekitar 3 m. Nah di 2 Gua ini tim atlet akan mengaplikasikan beberapa materi yaitu ARC, TPGV, TPGH, fotografi & pemetaan gua, serta vertical rescue. Yap, sekali lagi betapa tak mudah. Excited sekaligus takut, yasih rasa yang wajar dirasain untuk orang yang baru belajar tentang gua-gua’an hehehe. Pengalaman yang paling awe(some) eh awe-awe sih, waktu di gua Luwung Karak, gua ini bener-bener berhasil ngendorin mental dan fisik. Selain kedalaman yang 100 Meter gua ini punya lubang yang begitu sempit di pitch ke II, beruntung sekali badan ku muat dan pipiku nggak nyangkut hehe=)))) walaupun agak miring-miring gak karuan waktu melewati pitch ke II itu Alhamdulillah kami para tim atlet keluar Gua Luwung Karak dengan selamat dan dengan mental dan fisik yang sudah mengendor.

GambarGambar 1.2 Gua Sarung

Nah di Gua Sarung kami para tim atlet yang ditemani tim ahli menerapkan materi fotografi gua, masih amatiran sih perlu belajar lagi, ini hasil potretanku yang nggak sengaja kejepret hehehe

Gambar

Gambar 1.4 Fotografi Gua

Di gua sarung pula kami mengaplikasikan materi pemetaan. Hasil pemetaan ini digunakan untuk mengetahui bagaimana bentukan gua, sebagai bukti otentik para penelusur gua selain itu juga sebagai bahan penelitian para ahli dalam bidang speleologi.

GambarGambar 1.5 Yes we Are

Yap begitulah sedikit pengalaman kami saat melakukan Dikjut Susur Gua 2014 ini, sekian.

 

CAVING (SUSUR GOA)

by dewabejo 300610 dalam Pengenalan dasar CAVING ( susur goa ), Tak Berkategori

SPELEOLOGY berasal dari kata Yunani, Spalion (gua) dan Logos (ilmu).Sehingga dapat diartikan speleologi adalah ilmu yang mempelajari gua beserta ilmu dan lingkungannya. Menurut IUS (Interna-tional Union Of Speleology), yang berkedudukan di Wina Austria :

Gambar

Gambar

 

Gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang dapat dimasuki orang. Gua memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya, yaitu sangat stabilnya suhu udara yang ada. Menurut catatan yang ada, penelusuran gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674). Ia adalah seorang ahli tambang dan geologi amatir. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua adalah Baron Johan Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 gua, membuat peta, sketsa dan melahirkan empat buku setebal 2800 halaman. Untuk wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Prancis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) terletak di Yugoslavia. Sedangkan di Indonesia, faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua-gua. Baik sebagai tempat pemujaan, sesaji maupun bertapa. Bahkan sering dianggap sebagai tempat tinggal makhluk !! Dalam penelusuran gua sangat ditekankan suatu etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur dan hal ini sudah menjadi motto NSS (National Speleological Society). Etika tersebut yaitu :

ª Take Nothing But Picture (Tidak mengambil sesuatu kecuali foto)

ª Leave Nothing But Footprints (Tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki)

ª Kill Nothing But Time (Tidak membunuh sesuatu kecuali waktu)

ILMU YANG BERKAITAN DENGAN SPELEOLOGI

1. Geomorfologi

Adalah keadaan permukaan daerah kawasan gua merupakan suatu bentang alam yang khas. Khususnya di daerah karst, adanya bukit karst yang berbentuk cone karst, tower karst maupun bentuk morfologi lain seperti dolina, ovala, cockpit, sungai, maupun bentuk-bentuk lain yang merupakan ciri kawasan karst yang mengalami proses pelarutan.

2. Klimatologi

Keadaan iklim suatu daerah mempunyai pengaruh terhadap lingkungan gua, baik itu flora dan fauna, maupun bentuk fisik gua. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan suhu, tekanan, curah hujan yang ada di daerah tersebut.

3. Hidrologi

Merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan mempelajari proses terbentuknya lorong gua yang disebabkan oleh aliran air baik secara fisik maupun kimiawi. Selain itu, proses terbentuknya ornamen gua seperti stalaktit, stalakmit, canopy, gourdam, dll, endapan dalam gua,sungai bawah tanah, yang kesemuanya itu merupakan bagian dari proses terbentuknya gua.

4. Geologi

Bagi ahli geologi, gua sangat menarik. Mempelajari bagaimana terbentuknya batuan karbonat atau gamping, batuan vulkanik, dan metamorfosa. Juga mempelajari tentang Tektonik, seperti pelipatan, pengangkatan dan pergeseran.

 

 

 

5. Biologi

Ekosistem yang berada di dalam sebuah gua sangatlah unik. Keunikan ini terjadi karena tidak pernahnya cahaya yang masuk ke gua, perubahan suhu yang sangat kecil, dan masih banyak faktor yang lain. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di permukaan yang boleh dibilang selalu mendapat cahaya.

6. Arkeologi dan Paleomologi

Nilai arkeologi dari suatu gua bisa terlihat karena adanya suatu peninggalan jaman purba yang masih bisa kita saksikan di dalam gua tersebut seperti lukisan di dinding dan peninggalan lainnya seperti kapak batu, patung, dan barang pecah belah. Gua yang memiliki nilai arkeologi contohnya ada di :

ª Maros, Leang-leang, Sumpang Bita, di Sulawesi Selatan.

ª Fak-fak Irian Jaya

ª Kalimantan Tengah, dan

ª Flores

Selain ke-6 ilmu id atas, masih banyak cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan penelusuran gua seperti antropologi,

PERALATAN

Peralatan Pribadi

1. Helm

Helm untuk kegiatan caving berbeda dengan helm untuk rafting, climbing, atau olah raga lainnya. Tapi prinsipnya sama yaitu untuk melindungi kepala dari benturan benda keras. Untuk caving, helm ini pada bagian depannya dilengkapi dengan lampu penerangan.

2. Alat penerangan

Alat ini sangat vital untuk digunakan mengingat kondisi di dalam gua selalu gelap.Dianjurkan untuk membawa minimal tiga buah alat penerangan yang berbeda cara penggunaanya. Contoh alat penerangan yang biasa dipakai : Boom, senter, dan lilin.

3. Pakaian

Untuk pakaian, sangat dianjurkan memakai pakaian yang menutup seluruh badan dari kaki sampai leher, dan terbuat dari bahan yang cepat kering jika basah. Hal ini mengingat kebanyakan kondisi gua yang selalu dalam keadaan basah.

4. Sepatu

Sepatu sangat dianjurkan dipakai dalam caving. Diutamakan yang tidak menyerap air (sepatu dari bahan karet), dan memiliki sol yang kuat. Sepatu sangat penting mengingat kondisi dasar gua yang kebanyakan berupa batuan yang runcing dan tajam

5. Pelampung

Banyak digunakan pada penelusuran gua yang berupa sungai bawah tanah.

6. Sarung Tangan

Digunakan untuk melindungi tangan dari gesekan dengan tali dan dinding gua /batu yang tajam dan kasar.

7. SRT (Single Rope Technic)

Terdiri dari :

1. Seat harness
2. Ascender
3. Descender
4. Millon Rapide
5. Chest harness
6. Cow.s tail
7. Foot lopp

Peralatan Kelompok

1. Tali

Tali yang digunakan sama dengan yang digunakan pada tebing, tapi lebih baik menggunakan jenis static rope.

1. Ladders

Ladder atau tangga tali, biasanya terbuat dari kawat baja, atau dari tali . Digunakan pada pitch pendek dengan bentuk lintasan overhang.

1. Padding

Digunakan untuk melindungi tali dari gesekan. Terbuat dari bahan terpal yang kuat terhadap gesekan

1. Peralatan lain

ª Webbing

ª Carabiner

ª Pengaman untuk tambatan

ª Hammer

ª Pulley

PEMETAAN

Pemetaan gua sangat penting untuk dilaksanakan. Gua yang sudah terpetakan akan memudahkan para penelusur selanjutnya untuk menyusuri gua tersebut. Misal untuk peenlitian, SAR, maupun untuk sekedar penyusuran biasa.

Peralatan:

* Pita ukur / meteran

Gunakan meteran yang terbuat dari karet/plastik, ketelitian sampai Centimeter, dan panjang sejauh mungkin ( ± 30 m).

* Kompas

Gunakan kompas yang simpel seperti kompas orienteering. Kalau mau lebih teliti gunakan kompas bidik.

* Clinometer

Digunakan untuk mengukur sudut kemiringan terhadap bidang datar

* Lembar catatan / Buku

Digunakan untuk mencatat data yang diambil selama pemetaan.

Gunakan kertas yang tahan air, seperti kertas minyak.

ª Pensil

ª Penghapus

 

 

Kelengkapan Peta

Hal – hal yang harus diperhatikan dan dicatat selama pemetaan diantaranya :

ª Nama gua. Usahakan sesuai dengan nama yang diberikan oleh

ª penduduk setempat.

ª Grade peta. Digunakan untuk menunjukkan ketelitian daripada pemetaan.

ª Lokasi Gua.

ª Arah utara peta.

ª Skala peta

ª Cross section. Menggambarkan penampang melintang lorong gua sesuai skala.

ª Simbol .simbol. Digunakan untuk menggambarkan keadaan / bentukan dari gua yang spesifik seperti runtuhan, sungai, dan danau.

BAHAYA

Bahaya yang kemungkinan datang di dalam gua sangat banyak. Sebagian besar merupakan faktor dari alam. Diantaranya :

1. terpeleset atau jatuh

2. tenggelam

3. tersesat

4. kedinginan

5. runtuhan atap atau dinding gua

6. hewan buas seperti hariamau, ular, kalajengking

7. keracunan gas seperti CO2

8. bahaya teknis yang disebabkan human error seperti kemampuan personil yang kurang, peralatan tidak bekerja baik ataupun rusak.

Exploring Tuban Caves

By Wanala Universitas Airlangga October 25, 2010

Pada tanggal 9-13 Juni 2010 kegiatan penelusuran gua berhasil dilakukan oleh tim pendidikan lanjutan divisi susur gua Wanala Unair. Tim yang terdiri dari tujuh anggota baru dan lima orang warga Divisi Susur Gua Wanala Unair melakukan kegiatan tersebut di daerah karst Tuban. Tepatnya di Gua User dan Gua wareng, Desa Banyubang, kecamatan grabagan dan Gua Penggeh, Desa Waleran, Kecamatan Penggeh. Kegiatan ini bertujuan untuk mendidik calon anggota baru divisi melalui pembekalan ilmu pengetahuan dan meteri teknis berkaitan dengan penelusuran gua atau caving. Mulai dari teknik penelusuran (rigging, anchoring, cleaning), cave rescue, bahaya dan etika penelusuran, aplikasi fotografi dan pemetaan gua. Seluruh aktivitas tersebut dilakukan dalam waktu tiga hari dan tim menggunakan rumah warga sebagai base camp kegiatan. Pembagian lokasi gua berdasarkan aplikasi materi di lapangan telah ditentukan dengan ketentuan aplikasi teknik penelusuran gua vertical di gua user dan aplikasi materi pemetaan, fotografi gua penggeh sedangkan aplikasi vertical rescue di gua wareng.

Gambar

 

 

Kegiatan di hari pertama dan kedua tim diisi dengan aplikasi Teknik Penelusuran Gua Vertical (TPGV) berlokasi di Goa User. Tim sengaja dibagi menjadi dua kelompok, tim A melakukan penelusuran di hari pertama sedangkan tim B melanjutkan penelusuran di hari berikutnya. Gua user sendiri berada di kawasan karst 3 km arah barat dari pusat kota Tuban. Gua ini berkarakteristik multipitch dimana pitch pertama sedalam 2.60 meter, pitch kedua sedalam 7.25 meter dan pitch ketiga 12 meter baru setelahnya horizontal sepanjang 235 meter. Gua tersebut merupakan gua berair.

Yang menarik dari penelusuran yang dilakukan di gua user oleh tim dikjut caving saat itu adalah tim mencoba untuk menelusur lorong vertical gua yang belum tercantum di peta penelusuran. Yaitu terletak di pitch kedua setelah ketinggian 2.60 meter. Terdapat dua lorong vertical yang belum terpetakan. Yang pertama dengan kedalaman 12 meter dan yang kedua sekitar 8 meter dan 3 meter diantaranya terdapat pitch.

Dihari ketiga dilakukan aplikasi cave rescue di Gua Wareng yang terletak di desa banyubang tuban dengan jarak sekitar 100 meter dari base camp tim. Gua itu merupakan suatu luweng yang memiliki kedalaman hingga 60 meter dengan lebar mulut gua (entrance) lebih kurang 50 meter. Di dalam lantai atau dasar gua terdapat vegetasi tumbuhan yang terdiri dari beraneka ragam spesies. Simulasi kegiatan cave rescue wajib dikuasai oleh tim khususnya sebagai tindakan antisipatif terutama apabila terjadi kecelakaan dalam gua. Teknik yang digunakan adalah sistem hauling dan lowering dengan metode Z rig system.

 

Sesaat setelah menyelesaikan aplikasi simulasi cave rescue tim langsung menuju ke gua penggeh untuk melaklukan fotografi gua dan pemetaan. Gua penggeh sendiri berada di lereng gunung penggeh tepatnya di desa waleran kecamatan grabagan tuban. Jarak gua dengan rumah warga terdekat sekitar 700 meter. Di sekitar mulut gua terdapat lokasi ladang jagung penduduk setempat. Entrance gua berbentuk setengah lingkaran dengan lebar 14 meter, tinggi kurang lebih 1 meter, dan panjang 191,1 meter. Untuk pemataan gua sendiri tim menggunakan teknik top to bottom dalam artian pengukuran dilakukan bermula dari mulut gua hingga ke ujung gua. Setelah data pemetaan berhasil di dapat dengan menggunakan alat bantu pengukuran manual seperti kompas, klinometer dan topofil, setelahnya baru dilakukan proses pengolahan data setelah kegiatan. Seusai kegiatan pemetaan tim kemudian melakukan fotografi gua. Yang menarik disini adalah tim mencoba merekam keindahan tersembunyi gua penggeh berikut rekam jejak aktivitas penambangan kotoran kelelawar (guano) oleh penduduk lokal di gua tersebut.(Kuz9)

Layout Kantor

Layout Kantor

PT. Secret Corporation :
a. 3 pengacara
b. 2 legal secretary
c. 2 pegawai administrasi
d. 1 resepsionis
e. 1 pegawai administrasi hukum yang bertanggung jawab pada lalu lintas data atau informasi
f. Ruang Konferensi
g. Musholla
h. Pantry
i. Toilet